Sabtu, 15 Desember 2012

AGAMA HINDU: SAD DARSANA

"FILSAFAT YOGA-WAISESIKA DAN FILSAFAT NYAYA-MIMAMSA"


A.  Filsafat Yoga dan Waisesika
Ajaran  Yoga sangat populer dikalangan Umat Hindu. Adapun pembangunan ajaran ini adalah Maharsi Patanjali. Ajaran ini adalah  merupakan anugrah yang luar biasa dari Maharsi Patanjali kepada siapa saja yang ingin merasakan kehidupan rohani. Bila kitab weda merupakan pengetahuan suci yang sifatnya teoritis, maka Yoga merupakan ilmu yang sifatnya praktis dari ajaran Weda. Ajaran ini merupakan bantuan bagi merekan yang ingin meningkatkan diri dalam bidang rohani.
 Dalam ajaran Jainisme dan Buddhisme juga terdapat tradisi yoga. Namun dalam makalah ini pemakalah tidak akan membahas yoga dalam ajaran tersebut tetapi fokus pada yoga dalam konteks Hinduisme saja.
1.    Filsafat Yoga
a.    Pengertian Yoga
Secara etimologi, kata yoga diturunkan dari kata yuj ( sansekerta), yoke (Inggris), yang berarti ‘penyatuan’ (union). Yoga berarti penyatuan kesadaran manusia dengan sesuatu yang lebih luhur, trasenden, lebih kekal dan ilahi. Menurut Panini, yoga diturunkan dari akar sansekerta yuj yang memiliki tiga arti yang berbeda, yakni: penyerapan, samadhi (yujyate) menghubungkan (yunakti), dan pengendalian (yojyanti). Namun makna kunci yang  biasa dipakai adalah ‘meditasi’ (dhyana) dan penyatuan (yukti).
b.   Tokoh Yoga
Pendiri dari sistem Yoga adalah Hiranyagarbha dan Yoga yang didirikan oleh Maharsi Patanjali merupakan cabang atau tambahan dari filsafat Samkhya, yang memiliki daya tarik tersendiri bagi para murid yang memiliki temperamen mistis dan perenungan. Tulisan pertama tentang ajaran Yoga karya Maharsi Patanjali adalah kitab Yoga Sutra, walaupun unsur-unsur ajarannya sudah ada jauh sebelum itu. Ajaran yoga sebenarnya sudah terdapat di dalam kitab Smrti, demikian pula dalam Itihasa dan Purana. Setelah buku-buku Yoga Sutra muncullah kitab-kitab Bhasya yang merupakan komentar terhadap karya patanjali, diantaranya Bhasya Nitti oleh Bhojaraja dan lain-lain. Komentar-komentar ini menguraikan ajaran Yoga karya Patanjali yang berbentuk Sutra berupa kalimat pendek yang padat isinya. Sistem filsafat yang dipakai untuk mendasari Yoga ini terang diambil dari ajaran Samkhya, karena memang filsafat Yoga ini berhubungan erat sekali dengan Samkhya. Di dalam buku Filsafat Hindu yang di susun oleh I Wayan Maswinara dikatakan bahwa Yoga bersifat lebih Orthodox dari pada filsafat Shamkhya, karena Yoga secara langsung mengakui keadaan Isvara, sehingga sistem filsafat Patanjali ini merupakan Sa-Isvara.
Samkhya, karena adanya Isvara atau Purusa istimewa (khusus) didalamnya, yang tak tersentuh oleh kemalangan, penderitaan, kerja keinginan dan sebagainya. Patanjali mendirikan sistem filsafat ini dengan latar belakang metafisika dan Samkhya menerima 25 prinsip atau Tattva dari Samkhya. Yoga menerima pandangan metafisika dari prinsip  Samkhya, tetapai lebih menekankan pada sisi praktisnya guna realisasi dari penyatuan mutlak Purusa atau sang Diri.
Kata Yoga artinya ialah hubungan. Hubungan antara roh yang berpribadi dengan roh yang Universal yang tidak berpribadi. Tetapi patanjali mengartikan Yoga sebagai cittawrtti nirodha yaitu menghentikan geraknya fikiran.
Roh  pribadi dalam sistem Yoga memiliki kemerdekaan yang lebih besar dan dapat mencapai pembebasan dengan bantuan Tuhan. Kalau sistem samkhya menetapkan bahwa pengetahuan merupakan cara untuk mencapai pembebasan, maka dalam sistem Yoga menganggap bahwa konsentrasi, meditasi, dan Samadhi akan membawa kepada Kaivalya atau terkandung dalam kesan-kesan dari keanekaragaman fungsi mental dan konsentrasi dari energi mental pada Purusa yang mencerai dirinya.
Menurut Patanjali, Tuhan merupakan Purusa istimewa atau Roh khusus yang tak terpengaruh oleh kemalangan, karma, hasil yang diperoleh dan cara memperolehnya, pada-Nya merupakan batas tertinggi dari benih ke-Maha Tahuan. Yang tak terkondisikan oleh waktu, yang selamanya bebas dan merupakan Guru bagi para bijak jaman dulu.
c.    Yoga Sutra
Seluruh kitab Yoga  Sutra karya Patanjali terdiri atas 4 bagian yang terdiri diri 194 Sutra. Yaitu:
1.    Samadhipada. Samadhipada isinya memuat penjelasan tentang sifat dan tujuan melaksanakan Samadhi juga menerangkan tentang perubahan-perubahan pikiran dan pelaksanaan ajaran Yoga.
2.    Sadhanapada. Sadhanapada isinya memuat tentang cara pelaksanaan yoga seperti cara mencapai Samadhi, tentang kedudukan, tentang karma phala dan sebagainya. 
3.    Virbutipada. Virbutipada isinya memberikan uraian tentang daya-daya supra alami atau Siddhi yang adapat dicapai melalui pelaksanaan Yoga.
4.    Kaivalyadapa. Kaivalyapada isinya melukiskan tentang alam kelepasan dan kenyataan rokh yang mengatasi alam duniawi atau menggambarkan sifat dari pembebasan.
Ajaran filsafat Yoga yang terpenting adalah citta (pikiran) citta dipandang sebagai hasil pertama dari prakrti yang juga meliputi Ahamkara dan Manas. Didalam citta ini Purusa dipantulkan dengan penerimaan pantulan Purusa Citta ini menjadi sadar dan berfungsi. Tiap citta berhubungan dengan satu tubuh sehingga dengan demikian Purusa dibebaskan dari belenggu badan dalam kehidupan sehari-hari citta disamakan dengan wrtti, yaitu bentuk-bentuk perubahan citta dalam penyesuaian diri dengan objek pengamatan. Melalui aktifitas citta ini, purusa tampak bertindak, bergirang atau menderita.
Prubahan citta dapat diklasifikasikan kedalam lima macam, yaitu:
1.    Pramana, alat pengenalan yang meluputi pengamatan, penyimpulan, dan kesaksian yang benar.
2.    Wiparyaya, pengetahuan yang palsu, yang didasarkan atas gambaran yang keliru atas hal yang diamati, yang slalu tampak sebagai Awidya
3.    Wikalpa, pengetahuan yang berdasarkan sabda, bukan berdasarkan kenyataan. Sehingga juga mewujudkan pengetahuan yang tidak nyata.
4.    Nidra, tidur dan mimpi
5.    Smerti, ingatan atau kenangan yang keduanya bekerja tanpa bahan-bahan baru.
Pengamatan yang benar hanya melalui Tripramana aktifitas citta menimbulkan kecendrungan yang terpendam, yang selanjutnya menimbulkan kecendrungan yang lain. Demikianlah Samsara berputar, manusia ditaklukan oleh klesa yang terdiri dari:
1.    Awidya, yaitu pengetahuan yang salah seperti menganggap yang tidak kekal, yang bukan rokh sebagai rokh, yang tidak suci sebagai yang suci, dan sebagainya.
2.    Asmita (keakuan), aitu pandangan yang salah yang memandang Rokh itu sama dengan buddhi atau manah.
3.    Raga (keterikatan), raga atau nafsu keinginan dan alat-alat pemuasnya.
4.     Dwesa (dendam), dwesa ialah kebencian atau dendam.
5.     Abhiniwesa (takut terhadap kematian), yaitu rasa takut pada kematian semua makhluk.
Untuk dapat terlepasnya Purusa dari ikatan Prakirti, seorang harus dapat melepaskan writti yaitu dengan melepaskan klesa, sebab klesa merupakan dasar tebentuknya karma yang menimbulkan awidya. Jadi dalam hidup manusia terdapat satu rangkaian yang tiada putusnya, yaitu perputaran writti dan klesa. Lepasnya ikatan dapat tercapai melalui pengendalian diri (wairagya), sehingga dapat membedakan yang pribadi dan yang bukan pribadi.
d.   Raja Yoga dan Hatha Yoga
Yoganya Maharsi Patanjali merupakan astaga Yoga atau Yoga dengan delapan anggota, yang mengandung disiplin pikiran dan tenaga fisik. Hatha Yoga membahas tentang cara-cara mengendalikan badan dan pengaturan pernafasan, yang memuncak pada Raja-Yoga, melalui sadhana yang progresif dalam Hatha Yoga sehingga hatha Yoga merupakan tangga untuk mendaki menuju tahapan Raja-yoga. Bila gerakan nafas dihentikan dengan cara Kumbhaka, pikiran menjadi tak tertopang dan pemurnian badan melalui say-karma (6 kegiatan pemurnian badan) yaitu Dhauti (pembersihan perut), Basti (bentuk alami pembersihan usus), Neti (pembersihan lubang hidung) Trataka (penatapan tanpa kedip terhadap sesuatu objek), Nauli (pengadukan isi perut) dan kapalabhati (pelepasan lendir melalui semacam pranayama tertentu), serta pengendalian pernafasan merupakantujuan langsung dari Hatha-yoga. Badan akan diberikan kesehatan, kemudahan, kekuatan dan kemantapan melaksanakan Asana, bandha dan Mudra.
e.    Tujuan Yoga
Tujuan utama Yoga ialah membebaskan manusia dari ketiga jenis penderitaan, yaitu:
1.    Yang timbul dari kelemahan, kesalahan tingkah laku dan penyakitnya.
2.    Yang timbul dari perhubungannya dengan makhluk-makhluk lain, seperti Harimau, pencuri dan sebagainya.
3.    Yang timbul dari perhubungannya dengan Alam diluar, seperti elemen-elemen dan daya-daya abstrak, halus dan sukar diketahui.
Hal tersebut bisa dicapai dengan cara berikut:
a.    Dengan jalan tanpa pelekatan serta tidak terikat pada dunia, tapi tidak berarti harus mengisolasikan dirinya.
b.    Dengan jalan mengendalikan fikiran serta kreasi-kreasinya, agar dengan demikian sekaligus membersihkan kesadaran yang nyata.
c.    Berusaha mencapai penggabungan roh individu dengan roh univeral secara positif dan mutlak. Kondisi ini dikenal sebagai samadhi dan merupakan tujuan sejati dari Yoga.
Yogi (pengikut Yoga) berusaha mencapai keadaan bebas seluruhnya dari roda hidup dan mati. Ia memandang Alam sebagai suatu daya kekuatan yang bekerja dalam dua jurusan. Dari dalamnya ia berjuang untuk memisahkan, dari dalamnya ia berjuang untuk menggabungkan kembali. Kekuatan dalam disebut Hidup, kekuatan luar disebut mati. Tujuan Yoga adalah menggabungkan kedua kekuatan tersebebut.
B.  Filsafat Nyaya dan Mimamsa
Telah kita ketahui aliran filsafat Nyaya  tergolong kedalam kelompok filsafat Astika (Ortodok) yakni filsafat yang mengakui kedaulatan dan kebenaran Weda. Sesungguhnya Nyaya membicarakan tentang Filsafat dan metode untuk mengadakan penelitian kritis dan logis. Maka setidaknya itulah yang melatarbelakangi penulis makalah ini untuk mengutarakan secercah pengetahuan tentang filsafat Nyaya yang merepresentasikan pada sebentuk Tuhan dan Kelepasan.
1.    Filsafat Nyaya
            Jika ke empat system pemikiran india lainnya (samkhya,yoga,purva- mimamsa dan vedanta) adalah bersifat spekulatif, Dalam arti bahwa mereka menjelaskan alam-semesta sebagai satu kesatuan menyeluruh, maka sistem nyaya-vaishenhika mewakili tipe filasafat analisis serta menjungjung tinggi akal sehat dan sains. Ciri khas system nyaya adalah penggunaan metode sebagai sains,yakni pemeriksaan logis dan kritis, mereka mencoba untuk mengembalikan subtansi-subtansi tradisional, jiwa di dalam diri dan alam (nature) di luar diri, tanpa semata-mata berdasarkan otoritas. Kaum nyaya mengakui kebenaran segala sesuatu berdasarkan akal-budi (reason). Yang membedakan system nyaya dari system lainnya adalah perlakuan kritis terhadap masalah metafisika. Vacaspati mendefinisikan tujuan nyaya sebagai pemeriksaan kritis atas objek pengetahuan melalui pembuktian logis. Sistem nyaya sebenarnya juga menjelaskan mekanisme pengetahuan secara mendetail serta beragumen melawan skeptisisme yang menyatakan bahwa tidak ada yang pasti.
            Sistem ini sejak lama diperlakukan sebagai bagian dari satu keseluruhan, system vaisheshika dipakai untuk melengkapi system nyaya,dan banyak sutras dalam sistem nyaya mengandaikan system vasheshika.Menurut Jacobi, “penyatuan kedua system ini sudah mulai sejak awal dan mencapai puncaknya pada saat nyayavarttika ditulis.
            Sejak dahulu kala, filsafat nyaya sudah mendapat penghormatan besar.Bahkan Manu sendiri memasukkannya dalam katagori surti. Yajnavalkya menganggapny sebagai salah satu dari ke-empat ruas weda. Dalam studi klasik tentang hinduisme, terdapat lima subjek, yakni sastra (kavya),drama (namaka),retorika (alamkara),logika (tarka), dan tata bahasa (uyakarana).Setiap system filsafat hindu menerima prinsip dasar logika nyaya.Jadi,system nyaya berfungsi sebagai sebuah pengantar bagi semua filsafat sistematis.
a.    Ruang Lingkup Nyaya
            Secara harfiah, kata “Nyaya” berarti sarana yang membimbing pikiran untuk mencapai suatu kesimpulan. Kata Nyayalantas menjadi setara dengan ‘Argumen”,karena itu system filsafat yang menggunakan argument secara menyeluruh disebut filsafat nyaya. Secara popular, nyaya berarti ‘benar’ atau ‘lurus’,sehingga nyaya menjadi sains tentang penalaran yang benar.Dalam arti sempit, ‘nyaya’ berarti penalaran silogistis,sedangkan dalam arti yang luas , ‘nyaya berarti peme-riksaan objek melalui bukti-bukti dan menjadi sebuah sains pembuktian atau pengetahuan yang benar.Semua pengetahuan mengimplikasikan empat kondisi :
1.    Subjek pengenal (pramatr)
2.    Objek (prameya)
3.    Kondisi hasil dari pengenalan (pramiti)
4.    Sarana pengetahuan (pramana)
Setiap tindakan sah atau tidak sah, melibatkan tiga unsure, yakni : subjek pengenal,isi apa yang disadari oleh subjek,dan hubungan pengetahuan antara keduanya,yang dapat dibedakan walaupun tidak dapat di pisahkan.Hakikat pengetahuan sebagai sah atau tidak sah tergantung pada unsure ke-empat yakni ‘pramana’.
           Filsafat nyaya bukan hanya mempertanyakan cara serta sarana yang dipakai oleh pikiran manusia untuk mengerti dan mengembangkan pengetahuan,tetapi juga menafsirkan fakta-fakta logis dan mengungkapkannya dalam rumusan yang logis. Pramana lantas menjadi ukuran pengetahuan melalui mana kita dapat memeriksa dan mengevaluasi pengetahuan yang sudah ada di dalam diri kita. Karenanya, logika adalah sains pembuktian atau pengukuran bukti.Masalah kebenaran memiliki dampak penting bagi teori metafisika. Sistem nyaya merupakan sebuah metafisika tentang realitas.Jadi, ia bukan hanya merupakn logika formal semata, tetapi juga sebagai sebuah epistemology penuh,yang menggabungkan diskusi tentang psikologi,metafieika gan teologi.
b.   Subtansi dan Katagori
            Filsafat nyaya mulai dengan pustulat bahwa semua pengetahuan secara hakiki atau kodrati menunjuk pada sebuah objek di luar dirinya dan bersifat mandiri. Objek-objek ini bukan hanya bersifat mandiri,lepas dari pengetahuan, tetapi juga lepas dari satu sama lainnya,dokri ini dapat digambarkan sebagai realisme plualistis. Namun kita tidak dapat mengasumsikan bahwa data pengetahuan adalah tidak berhubungan satu sama lainnya.Keragaman benda-benda yang dialami dapat dibagi menjadi dalam kelompok-kelompok yang disebut ‘subtansi’. Nyaya-vaishehika membagi subtansi menjadi Sembilan macam yakni :
1.    Tanah (prithivi)
2.    Air (apah,jala)
3.    Api (tejas)
4.    Udara (vayu)
5.    Eter (akasha)
6.    Waktu (kala)
7.    Ruang (dik)
8.    Diri (atman)
9.    Pikiran (manas).Kesembilan subtansi ini bersama-sama dengan berbagai sifat dan hubungannya menjelaskan seluruh semesta alam.
Subtansi-subtansi di atas tidak dengan sndirinya selu amenjelaskan menjelaskan seluruh alam semesta, namun hanya berfungsi sebagai kerangka- kerja.Dalam objek individual dalam alam, system nyaya-vasheshika meletakkan objek dalam enam katagori berbeda yakni :
·      Kualitas (guna)
Katagori ini mencakup 24 gunas, yakni warna (rupa), rasa (rasa), bau (gandha), sentuhan (sparsa), angka (sankhya), ukuran (parimiti), perbedaan (prthaktva), hubungan (samyoga), pemisah (vibhaga), kedekatan (paratva), berat (gurutva), kecairan (daravatva), kekentalan (sneha), suara (sacda), pengetahuan (buddhi), keinginan (iccha), kebencian (dvesa), usaha (yatna), kebaikan/jasa (dharma), keburukan (adharma), dan kesan laten (samskara).
·      Tindakan atau macam-macam gerak (karma)
Yang berhubungan dengan unsure dan kualitas, namun uga memiliki realitas mandiri,ada lima macam gerak yakni : ke atas, ke bawah, mendatar,mengerut, dan mengembang.
·      Universalia (samanya)
Aspek objek yang memberikan label secara umum menurut sipat yang paling umum, imi agak mirip dengan idenya plato. Seperti contoh “ ide ‘kesapian’ adalah tunggal dan tidak dapat dianalisis. Ide itu selalu hidup,tetapi tidak dapat dimengerti melalui dirinya sendiri,namun hanya melalui dengan se ekor ‘sapi’ dan kesapian dipahami sebagai dua entitas berbeda.
·      Individualitas (visesa)
Katagori ini menunjukkan ciri atau sifat yang membedakan sebuah objek dari objek lainnya.
·      Hubungan niscaya (samavaya)
Dimensi objek ini menunjukkan hakekat hubungan yang mungkin kalitas-kulitasnya yang inheren.
·      Penyangkalan,negasi,non-eksistensi
Katagori ini menunjukkan sebuah objek yang telah terurai atau larut dalam partikel subatomic terpisah melalui pelarutan universal dan ke dalam ketiadaan.
System nyaya menerima empat sumber pengetahuan : persepsi,penyimpulan,analogi dan bukti terpercaya. Ada juga nyaya mengajarkan ada empat cara atau alat untuk mencari atau mendapatkan pengetahuan yang benar yakni :
1.    Sabda pramana dapat dibedakan atas dua hal yaitu :
·         Kesaksian yang diberikan oleh orang yang dapat dipercaya karena keluhuran dank e tinggian budi nya yang dinyatakan dalam kata-katanya yang di sebut pula laukita.
·         Kesaksian atau kebenaran weda,nyaya menyakini bahwa weda merupakan wahyu tuhan,maka kesaksian kitab weda dipandang sbagai kesaksian yang sempurna serta tidak dapat dibantah kebenarannya (weda merupakan kebenaran yang mutlak)
2.    Upamana pramana yaitu mendapatka pengetahuan yang benar dengan objek yang dilihat kemudian. Contoh: seseorang yang tidak tahu dengan binatang singa. Dari seorang zoolog dia mendapatkan keterangan bahwa singa itu bentuknya menyerupai anjing namun muka dan kepalanya kelihatan lebih garang.pada suatu ketika orang yang mendapat keterangan tentang nama (sebutan) singa itu berjumpa dengan binatang serupa anjing di kebun binatang,maka dia dapat membandigkan keterangan yang dia terima dengan binatang yang dilihatnya serta dapat meyakini bahwa binatang tersebut adalah singa. Dengan menghubungkan sedemikian rupa akhirnya seoarang memiliki pengetahuan yang benar tentang suatu binatang. Cara seperti ini berlaku pula pada objek-objek yang lain.
3.    Anunama pramana yaitu cara mendapatkan pengetahuan yang benar denagn penyimpulan dari suatu peristiwa. Contoh :ditempat jauh dari kita dapat melihat ada asap mengepul.maka dapat kita simpulkan bahwa sebelum asap itu tentu ada sesuatu yang terbakar oleh api.
4.    Pratyaksa pramana merupakan cara mendapatkan pengetahuan denagn pengamatan langsung.alat yang dipakai untuk mengamati sesuatu dibedakan menjadi dua yaitu :
·           Pengamatan melalui panca indera.
·           Pengamatan yang bersifat transenden atau yang luar biasa.
Contoh:  seorang yogi dapat mengetahui sesuatu yang tidak dapat diamati oleh indera orang biasa.ini disebabkan karna seorang yogi dapat berhadapan dengan sasaran yang mengatasi indera manusia.kekuatan seperti itu dimiliki karna menguasai dan menghubungkan prana pada dirinya dengan prana makrokosmos.Umpamanya : seutas tali disangka se-ekor ular.Kesalahan bukan terletak pada objek atau sasaran yang disajikan yaitu “seutas tali” sebab objek /atau sasaran itu benar-benar ada.Kesalahan ada pada keterangan tambahan atau keterangan sifatnya (disangka ular).Sekali demikian harus di ingat bahwa ular benar-benar ada,hanya saja mungkin di tempat lain bukan waktu orang melihat seutas tali tadi.  Jadi kesalahan terletak pada perbuatan member corak/sifat kepada sesuatu yang sebenarnya tidak memiliki oleh sesuatu yang diamati.
c.    Tuhan
Karena nyaya menyakini keberadaan weda, maka penganut nyaya (naiyayika)percaya akan adanya tuhan dan tuhan disamakan denagn siwa.Untuk membuktikan adanya tuhan nyaya mengemukakan dua macam pembuktian tentang tuhan yaitu:
a)    Bukti Kosmologi, pembuktian ini menyatakan bahwa dunia ini adalah akibat dari suatu sebab. Oleh karena itu tentu ada sebab yang pertama dan utama.sebab itulah tuhan. Tidak ada sebab pertama kecuali tuhan karena segala sesuatu yang diketahui oleh manusia memiliki kemampuan yang terbatas selain tuhan.tidak ada sesuatu sebagai penciptanya sendirikecuali tuhan.
b)   Pembuktian teologis, pembuktian ini menyatakan bahwa di dunia ini ada suatu tata tertib dan atura tertentu sehingga dunia ini menampakkan suatu rencana yang berdasarkan pemikiran dan tujuan tertentu. Tentu ada yang mengadakan rencana dan tujuan tersebut.yang mengadakan itulah tuhan.
Tuhan disebut juga paratman karena tuhan termasuk golongan jiwa tertinggi yang bersifat kekal abadi, berada dimana-mana. Memenuhi alam dan merupakan kesadaran agung.
Nayan juaga meyakini kebenaran huku karma sehingga menyatakan bahwa mahluk-mahluk di dunia terikat akan haasil usahanya (karmanya). Setiap mahluk hidup tentu berbuat sesuatu demi hidupnya. Dan ini akan menimbulkan suatu ikatan. Karena keterikan itu menyebabkan jiwatnya menjadi terbelenggu oleh hasil karmanya yang akhirnya mengakibatkan mahluk meengalami suka dan duka (derita).Jiwa mengalami kelahiran selama jiwatnya itu terikat akan pahala karma.selain itu pula jiwatma akan menglami kelahiran .hal itu disebabkan karena ketidak tahuan (awidya)terhadap kebenaran sejati.
d.   Kelepasan
Kelepasan merupakan tujuan dari mahluk (manusia).Kelepasan akan dapat dicapai denagan melalui pengetahuan yang benar dan sempurna. Pengetahuan itu akan didapat dari tuntunan tuhan melalui ajarannya. Sebagai wujud dari kelepasan iyalah terbebasnya jiwatma dari kelahiran kesenangan maupun penderitaan. Agar kelahiran dan penderitaan terhenti maka hendaklah aktifitas (kerja)dihentikan sehingga terwujudlah kelepasan yaitu suatu keadaan yang tidak terikat akan karma ataupun phala karma.Untuk menghentikan aktifitas maka orang harus melandasi hidupnya dengan pengetahuan kebebasan sejati sehigga dengan pengetahuan itu orang akan bebas dari ketidak tahuan yang menyebabkan orang menjadi sadar dan bebas dari keinginan,kesalahan dan penyelewengan.Dengan demikian jiwatma akan bebas dari kerikil derita,tercapailah kelepasan.  
           
2.    Filsafat Mimamsa
Hindu tidak hanya kaya akan konsep ketuhanan tetapi juga kaya akan konsep filsafat yang dikenal sebagai sad darsana atau enam cabang filsafat dimana masing-masing filsafat memberikan penggambaran akan Tuhan yang pada akhirnya bertujuan untuk mengajarkan bagaimana mencapai Brahman atau Tuhan.  Darsana identik dengan “visi kebenaran” yang satu dengan yang lainnnya saling terikat. Filsafat Hindu memiliki karakter khusus yang menonjol yaitu kedalaman dalam pembahasannya, yang mencerminkan bahwa filsafat itu telah dikembangkan dengan sepenuh hati dalam mencari kebenaran.   Semangat pembahasan yang menyeluruh dari konsep yang nampak berbeda lebih dihargai karena memiliki ketelitian dan kesempurnaan yang dicapai kebanyakan aliran pemikiran India. Apabila kita membuka karya lengkap mengenai Vedanta, kita akan menemukan pernyataan dari pandangan seluruh aliran filsafat seperti Carvaka, Bauddha, Jaina, Saiikhya, Yoga, Mimamsa, Nyaya dan Vaisesika, yang dibicarakan dan dipertimbangkan dengan ketelitian penuh tanpa ada kesan menyalahkan satu dengan yang lain; demikian pula halnya karya agung mengenai filsafat Bauddha atau Jaina, juga membicarakan pandangan filsafat lainnya. Sudah barang tentu kita akan mendapatkan bahwa banyak permasalahan dari filsafat Barat kontemprorer dibicarakan dalam sistem filsafat India. Disamping itu, kita mendapatkan bahwa para sarjana pribumi dengan dasar pendidikan menyeluruh dalam filsafat India, akan mampu menangani berbagai masalah filsafat bahkan permasalahan filsafat Barat yang rumit sekalipun dengan ketrampilan yang mengagumkan.
Filsafat Hindu bukan hanya merupakan spekulasi atau dugaan belaka, namun ia memiliki nilai yang amat luhur, mulia, khas dan sistematis yang didasarkan oleh pengalaman spiritual mistis dan spiritual. Filsafat ini merupakan hasil kepekaan intuisi yang luar biasa. Sad darsana yang merupakan 6 sistem filsafat hindu, merupakan 6 sarana pengajaran yang benar atau 6 cara pembuktian kebenaran.
Adapun bagian-bagian dari Sad Darsana adalah :
1.    Nyaya, pendirinya adalah Gotama dan penekanan ajarannya ialah pada aspek logika.
2.    Waisasika, pendirinya ialah Kanada dan penekanan ajarannya pada pengetahuan yang dapat menuntun seseorang untuk merealisasikan sang diri.
3.    Samkhya, menurut tradisi pendirinya adalah Kapita. Penekanan ajarannya ialah tentang proses perkembangan dan terjadinya alam semesta.
4.    Yoga, pendirinya adalah Patanjali dan penekanan ajarannya adalah pada pengendalian jasmani dan pikiran untuk mencapai Samadhi.
5.    Mimamsa (Purwa-Mimamsa), pendirinya ialah Jaimini dengan penekanan ajarannya pada pelaksanaan ritual dan susila menurut konsep weda.
6.    Wedanta (Uttara-Mimamsa), kata ini berarti akhir Weda. Wedanta merupakan puncak dari filsafat Hindu. Pendirinya ialah Sankara, Ramanuja, dan Madhwa. Penekanan ajarannya adalah pada hubungan Atama dengan Brahma dan tentang kelepasan.
Ke-6 bagian-bagian dari Sad Darsana diatas merupakan secara langsung berasal dari kitab-kitab Weda, kalau diibaratkan masing-masing bagian dari Sad Darsana itu merupakan jalan untuk menuju Tuhan. Dimana untuk mencapai Tuhan kita harus melalui salah satu dari keenam jalan tersebut. Memang jalan yang kita lalui berbeda-beda namun setiap jalan mampunyai tujuan yang sama yaitu menghilangkan ketidak tahuan dan pengaruh-pengaruhnya berupa penderitaan dan duka cita, serta pencapaian kebebasan, kesempurnaan, kekekalan dan kebahagiaan abadi.
a.    Pengertian Mimamsa
Adalah suatu keyakinan biasa pada zaman Veda bahwa ucapan-ucapan Veda, dengan diterima sebagai yang tidak sesat dan bebas dari kekeliruan dalam jalan apapun, merupakan otoritas tertinggi untuk mengatur bagaimana orang menghayati hidup.
Secara etimologis, kata mimamsa berarti ‘bertanya’atau penyelidikan. bagian pertama dari filasfat ini disebut Purwa-Mimamsa (Mimamsa), sedangkan bagian kedua disebut Uttara-Mimamsa (Vedanta). Mimamsa dan vedanta juga seringkali dijadikan satu pasangan. Sistem Mimamsa-Vedanta adalah dua bagian dari satu filsafat yang mewakili unsur paling ortodoks dari tradisi Weda. Kedua sistem ini menjelaskan perkembangan, tujuan, serta ruang lingkup teks Weda.
Filsafat Mimamsa yang akan dibahas adalah Purwa Mimamsa, yang umum disebut dengan Mimamsa saja. Kata Mimamsa, berarti penyelidikan yang sistematis terhadap Veda. Purwa Mimamsa secara khusus mengkaji bagian Veda, yakni kitab-kitab Brahmana dan Kalpasutra, sedang bagian yang lain (Aranyaka dan Upanisad) dibahas oleh uttara Mimamsa yang dikenal pula dengan nama yang populer, yaitu Vedanta. Purwa Mimamsa sering disebut Karma Mimamsa, sedang Uttara Mimamsa disebut juga Jnana Mimamsa.
b.   Sejarah Singkat Tentang Mimamsa
Sebagai tokoh aliran Mimamsa ialah Jaimini yang hidup antara abad 3-2 SM dengan ajaran pokok yang diuraikan dalam kitab Mimamsa-Sutra. Dalam jaman kemudian ajaran dalam mimamsa-sutra dikomentari oleh para pengikutnya seperti : Sabaraswamin sekitar abad ke 4 Masehi dan Prabhakarya sekitar tahun 650. Serta yang terakhir oleh Kumarila Bhata sekitar tahun 700. Oleh karena itu dalam perkembangan selanjutnya terjadilah dua aliran dalam Mimamsa yaitu disatu pihak pengikut Prabhakara dan yang lainnya adalah pengikut Kumarila Bhata. Kedua aliran ini tetap berpegang pada pokok ajaran Mimamsa walaupun tujuan mereka masing-masing ada perbedaan.
c.    Ajaran Dalam Filsafat Mimamsa
Pokok  pembicaraan di dalam Mimamsa ialah peneguhan kewibawaan  kitab Weda dan pembuktian bahwa kitab Weda membicarakan upacara-upacara keagamaan. Oleh karena itu Mimamsa juga disebut Karma-Mimamsa.
Pada zaman Brahmana sudah dimulai adanya pembicaraan-pembicaraan tentang bermacam-macam hal yang mengenai upacara-upacara keagamaan, dan bahwa hasil dari pembicaraan-pembicaraan itu lalu disusun secara sistematis, yang kemudian menimbulkan kesusateraan yang disebut Kalpa-Sutra.
Ajaran Mimamsa dapat disebut pluralistis dan realistis, artinya: Aliran ini menerima adanya kejamakkan jiwa dan pergandaan asas bendani yang menyelami alam semesta ini, serta mengakui bahwa obyek-obyek pengamatan adalah nyata.
Sendi utama teori pengetahuan Mimamsa adalah pemahaman tentang keabsahan diri pengetahuan. tidak seperti teori pengetahuan lain yang mempertahankan bahwa klaim-klaim pengetahuan diketahui sebagai yang benar ketika mereka berhubungan dengan realitas, atau ketika mereka menuntun orang kepada tindakan yang berhasil, atau ketika mereka berpadu dalam satu sistem yang konsisten. Mimamsa menekankan bahwa kodrat pengetahuan itulah yang memberi kesaksian terhadap dirinya sendiri. Keyakinan kita akan kebenaran klaim yang ditunjuk pengetahuan dari kodratnya muncul sebagi satu sosok pengetahuan itu sendiri.
Mengenai alat atau cara untuk mendapatkan pengetahuan Prabhakara mengajarkan lima cara, sedangkan Kumarila Bhata mengajarkan enam cara termasuk yang diajarkan oleh Prabhakara. Keenam cara itu ialah:
1.    Pengamatan (Pratyaksa)
2.    Penyimpulan (anumata)
3.    Kesaksian (Sabda)
4.    Perbandingan (Upamana)
5.    Persangkaan (Arthapatti)
6.    Ketiadaan (Anupalabdi)
Empat bagian diatas sama dengan apa yang diterangkan dalam filsafat Nyaya. Bila keempat cara pertama tidak dapat dipakai untuk mendapatkan pengetahuan (kebenaran) dari suattu peristiwa, maka akanlah dipakailah cara persangkaan. Walaupun disadari bahwa cara ini perlu dibantu dengan cara lain untuk memperoleh cara yang pasti.
Bila terlihat seseorang dalam keadaan senyum dan mukanya berseri-seri, maka dapat diduga bahwa orang tersebut mendapat sukses dalam usahanya.
Kemudian Ketidak adaan (Anupalabdhi) termasuk cara yang diajarkan oleh Kumarila Bhata dan tidak termasuk diantara cara dari Prabhakara. Ketidakadaan ini dapat diterangkan dengan suatu contoh, misalnya: bila seseorang masuk dan mengamati sekeliling kamar dan mengatakan tidak ada meja di dalam kamar. Dia tidak melihat meja karena memang tidak ada meja di dalam kamar itu. Jadi  orang memiliki pengetahuan dalam hal ini karena ketidakadaan (anupalabdhi) dan ketidakadaan itu memang tidak dapat diamati.
Diantara cara-cara tersebut didepan maka Mimamsa memandang bahwa cara kesaksian (sabda) yang paling penting dan utama. Karna kesaksian adalah pengetahuan yang berasal dari kata-kata atau kalimat-kalimat. Namun sebagai satu sarana pengetahuan yang sah, kesaksian menunjuk hanya pada klaim-klam verbal yang berasal dari sumber yang dapat dipercayai dan dimengerti secara benar.
Dalam hal ini adalah kesaksian kitab weda. Wedalah kebenaran yang tertinggi dan Weda pula sumber pengetahuan yang sempurna. Tidak seperti beberapa sistem yang lain, Mimamsa tidak percaya akan satu pencipta dunia atau satu pengarang ilahi kitab Weda. Sebaliknya, Weda merupakan perwahyuan langsung dan kekal dari realitas itu sendiri.
e.    Weda Dan Dharma
Yang menjadi tujuan pokok Mimamsa adalah : Menyusun aturan dan teknik untuk menerangkan ajaran Weda terutama tentang pelaksanaan Dharma. Yang dimaksud dengan dharma disini adalah upacara-upacara keagamaan yang bersumber pada Weda, termasuk pula tuntunan kesusilaan. Dalam prakteknya Mimamsa sangat mengutamakan kesusilaan karna dinyatakan bahwa orang yang kotor secara kesusilaan sangat sulit dibersihkan melalui Weda. Kebersihan dalam kesusilaan merupakan  syarat mutlak didalam pelaksanaan upacara. Karna menurut Mimamsa dharma tidak menghasilkan buahnya secara langsung, melainkan  dengan pelantaraan, artinya : sekalipun orang melaksnakan segala upacara keagamaan dengan betul dan berdasarkan kemurnian kesusilaa, ia tidak langsung memeetik buahnya perbuatan itu. Hal ini terlebih-lebh berlaku bagi apa yang dianggap sebagai hasil tertinggi segala korban , yaitu sorga. Hasil ini baru akan dicapai setelah orang meninggal dunia.
Menurut Weda, dharma meliputi  dua macam tindakan yaitu tindakkan yang diwajibkan, baik berlaku pada umumnya, maupun yang berhubungan dengan upacara-upacara berkala, dan tindakkan yang tidak diwajibkan, yang fakultatip.
Mula-mula Mimamsa mengajarkan, bahwa tujuan hidup manusia yang terakhir ialah mencapai sorga, akan tetapi kemudian Mimamsa menyesuaikan diri dengan sistim-sistim yang lain, yaitu Moksa (kelepasan).
Jalan untuk mendapatkan kelepasan adalah pelaksanaanupacaraaupacara keagamaan seperti yang diajarkan oleh kitab Weda, yaitu tindakan-tindakan yang diwajibkan dan menjauhkan diri dari perbuatan yang terlarang. Karena keinginan yang berlebih-lebihan untuk mempertahankan kebebasan dan keutuhan Weda, Mimamsa tidak memberikan tempat tempat kepada Tuhan di dalam sistimnya. Weda tidak memiliki penyusun, baik manusia maupun Tuhan di dalam sistimnya. Seandainya dunia ini dijadikan oleh Tuhanyang mahakuasa dan maha pemurah, tidaklah mungkin di dalam dunia ada kesengsaraan. Dunia tidak dijadikan Tuhan, sebab dunia ini tidak berawal dan tidak berakhir. Tidak ada penciptaandan tidak ada peleburan dunia. Tidak ada waktu dimana akan ada dunia yang lain daripada dunia sekarang ini. Oleh karena itu juga tiada Tuhan. Bahkan dewa-dewa, yang kepadanya mula-mula korban-korban dipersembahkan apakah ada dewa atau tidak, bukan soal yang penting.
Arti sistim Mimamsa ialah bahwa sistim ini menyusun aturan-aturan untuk menjelaskan Weda. Hal ini memang perlu sekali.
 
f.     Tentang Alam
Berbicara mengenai alam semesta Mimamsa mengatakan bahwa alam ini real dan kekal serta terjadi atom-atom yang kekal pula. Alam ini tidak dibuat oleh Tuhan karena alam ini ada dengan sendirinya. Kedua aliran Mimamsa baik Prabhakara maupun Kumarila Bhata sama-sama mengajarkan adanya empat unsur di alam ini yaitu : Substansi, kualitas, aktifitas dan sifat umum.
Substansi menurut Prabhakara terdiri dari sembilan (9) yaitu: Bumi, Akal, Air, Pribadi, Api, Ruang, Hawa, Waktu, Akasa.
Sedangkan Kumarila Bhata mengajarkan ada sebelas (11) bagian substansi yaitu sembilan yang diajarkan oleh Prabhakara dan ditambah dengan unsur lagi yaitu : kegelapan (tamasa) dan suara (sabda).
Substansi, kualitas dan sifat umum sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dan dibedakan secara mutlak walaupun ketiga-tiganya mewujudkan satu kesatuan yang bulat. Dan substansi-substansi ini bukan terdiri dari atom-atom yang tidak dapat diamati. Hal itu disebabkan karena kitab Weda tidak menyatakan hal demikian itu. Bagian-bagian substansi dapat dapat diamati juga, seperti debu yang tampak di dalam sinar matahari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar